I
Bersandarlah dijendela...
Dia mulai bersuara ...
4 Januari 2018
Malam ini seperti biasa aku menghabiskan waktu dengan membaca beberapa buku dengan earphone terpasang di telingaku sembari duduk disamping jendela kamarku dengan ukuran 2,5x1,5 meter yang cukup kugunakan untuk duduk bersandar diantara kedua sisi pembatas jendela kayu bercat putih ini.Aku adalah satu-satunya pemiliki kamar dirumah ini yang berada dilantai dua dengan jendela menghadap timur ke arah luar. Ketika pagi datang sinar matahari pagi akan langsung menyelinap kedalam kamar, menganggu tidur lelapku yang hanya berkisar 3-4 jam yang kemudian disusul oleh kehadiran ayah yang membangunkanku dengan membaca ayat-ayat suci al-Quran dan mengusap usap kepalaku, it works!.
Jam dinding dikamarku yang letaknya berhadapan dengan jendela kamar menunjukan pukul 10 malam.Karena aku bukan tipikal orang yang terlalu kutu buku, pengaruh gadget serta media social menjadikanku salah satu dari ratusan juta orang diluar sana yang tengah tenggelam jauh menikmatinya pesatnya perkembangan iptek.Instagram menjadi temanku untuk mengetahui kegiatan luar teman-tmanku saat ini dari yang hanya mempost swafoto dengan caption yang menyatakan kegiatan mereka dengan gamblang hinga foto yang hanya secercah siluet disertai caption singkat dengan makna yang sangat dalam bila kau sering berteman dengan hal semacam itu, sepertiku.Scrolling layar HP kebawah hingga aku menemukan salah satu posting-an insgtagram temanku yang cukup menarik, terpampang sebuah gambar anak-anak kecil didaerah Afrika yang tengah belajar disebuah kelas yang kondisinya tampak sangat mengkhwatirkan bahkan bisa kukatakan hal itu sangat tidak kondusif, akhirnya kucoba untuk ketuk satu kali yang pada fiturnya akan menampilkan tag atau akun terkait yang ditandai. "gotcha! 2 jam lagi udah deadline terakhir pengumpulan, bisa nggak ya ? aha ada ide !" kataku sembari mempercepat langkahku turun melewati tangga dengan setiap langkah kuberi jarak 2 anak tangga menuju kamar ayah ibu ku yang letaknya persis dibawah kamarku,"Assalamualaikum, Pak Buk Ayu mau ikut kegiatan , jadi Ayu disuruh bikin essay gitu, eh tapi nggatau keterima apa enggak,doain ya buk pak, kalau ngggak lolos nggak papa deh tapi kalau keterima Alhamdulilah ya Buk Pak ! eheheh " kataku dengan ngos-ngosan berkecepatan agak tinggi sambil memijat kaki bergantian ayah dan ibu yang memang sering kulakukan setiap harinya. "waalaikumussalam, yaAllah nduk, acara apa itu? iya iya wes ndang sana " jawab ayahku dengan mata tertutup,"sungguhan yah? aaah sayaaang" sambil kulayangkan pelukanku pada ayah dan ibukku dan mencium perut ayah yang membuncit sama seperti kebanyakan ayah lainnya yang posisinya lebih dekat dengan tubuhku.
Berlari dengan cara yang sama aku kembali menuju kamarku sesegera mungkin mengisi hal-hal yang harus kuselesaikan untuk dikumpulkkan dan diseleksi oleh pihak Global Goals Model United Nation, dengan segala spontanitas pikiran yang kulakukan agar tidak melewati deadline aku mempercepat ketikan jariku, tapi ada yang membuatku terhenti ketika aku melihat sebuah form dimana aku harus memilih negara yang menjadi prioritasku untuk dapat berperan sebagai delegation of , membawa konflik atau persoalan dari negara pilihanku.Hmm, kebetulan aku adalah perempuan yang sangat tertarik dengan kegiatan sosial, khususnya pada kuantitas serta kualitas pendidikan, at least kuputsakna untuk menjadi delegation of Afghanistan, dimana hal ini berdasarkan kondisi negara yang masih berbekas sekali dengan kondiai peperangan yang tak henti-hentinya menghantui ,disamping itu pengaruh patriarki yang membuat tingkat perbedaan pendidikan antara perempuan dan laki-laki sangatlah meprihatinkaan.Bayangkan saja, seorang lelaki yang memiliki kedudukan tinggi serta dianggap kuat memiliki hak salah satunya utuk mengenyam pendidikan lebih tinggi dan leluasa dibanding perempuan. namun kenyataanya ia juga memilii kewajiban untuk berperang melindungi para perempuan yang menetap dirumah untuk berlindung , sayangnya dalam peperangan yang terjadi telah memakan mayoritas lelaki yang ada di negara itu, sedangkan perempuan disana harus bertahan hidup tanpa lelaki yang apabila suami sebagai pelindung dan pemenuh nafkah serta anak laki-laki yang juga mengemban tugas yang tak jauh beda,lantas bagaimana nasib perempuan disana?sebagai madrasah pertama seorang anak mereka tak memiliki bekal yang cukup,berbagai sekolah dibom secara massal,pendidikan wanita yang masih sangat minim ah sulit kubayangkan..
Eh tapi tak kusia-siakan mbah gugel yang ada saat ini, data-data internasional mulai kukumpulkan untuk membuka mindset serta informasi tentang kondisi negara lain yang juga memprahatinkan.Aku selalu ingat dengan kata-kata ibuku yang juga bergeming dala pikiranku" Kebahagiaan itu bukanlah ketika kamu mendapatkan apa yang kamu mau serta menikmatinya sendiri , namun kebahagiaan itu adalah ketika kamu mampu melihat orang berbahagia karenamu, jadilah orang yang bermanfaat nduk! tak peduli sesusah apapun itu, jadilah orang baik".Otakku langsung bekerja dengan cepat dan fokus, hingga tersisa 2 baris terakhir yang haurs kuselesaikan, namun mata dan tubuhku mulai terasa lelah, laptop diatas meja ini seperti biasa menemaniku dalam tidurku,tanpa pernah marah (rusak) walaupun sering sekali ketika kuterbangun ada tambahan kata-kata acak yang aneh karena keyboard laptop tertekan lenganku.Pernah suatu hari ketika aku tertidur dikantin bac, aku terbangun dengan tulisan di layar "bangun putri tidur!kau melewatkan pemandangan yg indah ketika kau tidur,secangkir susu coklay panas untukmu, see ya !" dan ya aku bingung kenapa bisaa serapi ini ketikan acak jariku dalam merangkai sebuah kata hmm , dan lagi ada secangkirs susu panas disampingku."terimakasihh" ketikku , save as!
to be contiuned ...
Bersandarlah dijendela...
Dia mulai bersuara ...
4 Januari 2018
Malam ini seperti biasa aku menghabiskan waktu dengan membaca beberapa buku dengan earphone terpasang di telingaku sembari duduk disamping jendela kamarku dengan ukuran 2,5x1,5 meter yang cukup kugunakan untuk duduk bersandar diantara kedua sisi pembatas jendela kayu bercat putih ini.Aku adalah satu-satunya pemiliki kamar dirumah ini yang berada dilantai dua dengan jendela menghadap timur ke arah luar. Ketika pagi datang sinar matahari pagi akan langsung menyelinap kedalam kamar, menganggu tidur lelapku yang hanya berkisar 3-4 jam yang kemudian disusul oleh kehadiran ayah yang membangunkanku dengan membaca ayat-ayat suci al-Quran dan mengusap usap kepalaku, it works!.
Jam dinding dikamarku yang letaknya berhadapan dengan jendela kamar menunjukan pukul 10 malam.Karena aku bukan tipikal orang yang terlalu kutu buku, pengaruh gadget serta media social menjadikanku salah satu dari ratusan juta orang diluar sana yang tengah tenggelam jauh menikmatinya pesatnya perkembangan iptek.Instagram menjadi temanku untuk mengetahui kegiatan luar teman-tmanku saat ini dari yang hanya mempost swafoto dengan caption yang menyatakan kegiatan mereka dengan gamblang hinga foto yang hanya secercah siluet disertai caption singkat dengan makna yang sangat dalam bila kau sering berteman dengan hal semacam itu, sepertiku.Scrolling layar HP kebawah hingga aku menemukan salah satu posting-an insgtagram temanku yang cukup menarik, terpampang sebuah gambar anak-anak kecil didaerah Afrika yang tengah belajar disebuah kelas yang kondisinya tampak sangat mengkhwatirkan bahkan bisa kukatakan hal itu sangat tidak kondusif, akhirnya kucoba untuk ketuk satu kali yang pada fiturnya akan menampilkan tag atau akun terkait yang ditandai. "gotcha! 2 jam lagi udah deadline terakhir pengumpulan, bisa nggak ya ? aha ada ide !" kataku sembari mempercepat langkahku turun melewati tangga dengan setiap langkah kuberi jarak 2 anak tangga menuju kamar ayah ibu ku yang letaknya persis dibawah kamarku,"Assalamualaikum, Pak Buk Ayu mau ikut kegiatan , jadi Ayu disuruh bikin essay gitu, eh tapi nggatau keterima apa enggak,doain ya buk pak, kalau ngggak lolos nggak papa deh tapi kalau keterima Alhamdulilah ya Buk Pak ! eheheh " kataku dengan ngos-ngosan berkecepatan agak tinggi sambil memijat kaki bergantian ayah dan ibu yang memang sering kulakukan setiap harinya. "waalaikumussalam, yaAllah nduk, acara apa itu? iya iya wes ndang sana " jawab ayahku dengan mata tertutup,"sungguhan yah? aaah sayaaang" sambil kulayangkan pelukanku pada ayah dan ibukku dan mencium perut ayah yang membuncit sama seperti kebanyakan ayah lainnya yang posisinya lebih dekat dengan tubuhku.
Berlari dengan cara yang sama aku kembali menuju kamarku sesegera mungkin mengisi hal-hal yang harus kuselesaikan untuk dikumpulkkan dan diseleksi oleh pihak Global Goals Model United Nation, dengan segala spontanitas pikiran yang kulakukan agar tidak melewati deadline aku mempercepat ketikan jariku, tapi ada yang membuatku terhenti ketika aku melihat sebuah form dimana aku harus memilih negara yang menjadi prioritasku untuk dapat berperan sebagai delegation of , membawa konflik atau persoalan dari negara pilihanku.Hmm, kebetulan aku adalah perempuan yang sangat tertarik dengan kegiatan sosial, khususnya pada kuantitas serta kualitas pendidikan, at least kuputsakna untuk menjadi delegation of Afghanistan, dimana hal ini berdasarkan kondisi negara yang masih berbekas sekali dengan kondiai peperangan yang tak henti-hentinya menghantui ,disamping itu pengaruh patriarki yang membuat tingkat perbedaan pendidikan antara perempuan dan laki-laki sangatlah meprihatinkaan.Bayangkan saja, seorang lelaki yang memiliki kedudukan tinggi serta dianggap kuat memiliki hak salah satunya utuk mengenyam pendidikan lebih tinggi dan leluasa dibanding perempuan. namun kenyataanya ia juga memilii kewajiban untuk berperang melindungi para perempuan yang menetap dirumah untuk berlindung , sayangnya dalam peperangan yang terjadi telah memakan mayoritas lelaki yang ada di negara itu, sedangkan perempuan disana harus bertahan hidup tanpa lelaki yang apabila suami sebagai pelindung dan pemenuh nafkah serta anak laki-laki yang juga mengemban tugas yang tak jauh beda,lantas bagaimana nasib perempuan disana?sebagai madrasah pertama seorang anak mereka tak memiliki bekal yang cukup,berbagai sekolah dibom secara massal,pendidikan wanita yang masih sangat minim ah sulit kubayangkan..
Eh tapi tak kusia-siakan mbah gugel yang ada saat ini, data-data internasional mulai kukumpulkan untuk membuka mindset serta informasi tentang kondisi negara lain yang juga memprahatinkan.Aku selalu ingat dengan kata-kata ibuku yang juga bergeming dala pikiranku" Kebahagiaan itu bukanlah ketika kamu mendapatkan apa yang kamu mau serta menikmatinya sendiri , namun kebahagiaan itu adalah ketika kamu mampu melihat orang berbahagia karenamu, jadilah orang yang bermanfaat nduk! tak peduli sesusah apapun itu, jadilah orang baik".Otakku langsung bekerja dengan cepat dan fokus, hingga tersisa 2 baris terakhir yang haurs kuselesaikan, namun mata dan tubuhku mulai terasa lelah, laptop diatas meja ini seperti biasa menemaniku dalam tidurku,tanpa pernah marah (rusak) walaupun sering sekali ketika kuterbangun ada tambahan kata-kata acak yang aneh karena keyboard laptop tertekan lenganku.Pernah suatu hari ketika aku tertidur dikantin bac, aku terbangun dengan tulisan di layar "bangun putri tidur!kau melewatkan pemandangan yg indah ketika kau tidur,secangkir susu coklay panas untukmu, see ya !" dan ya aku bingung kenapa bisaa serapi ini ketikan acak jariku dalam merangkai sebuah kata hmm , dan lagi ada secangkirs susu panas disampingku."terimakasihh" ketikku , save as!
to be contiuned ...
Good Job. Let's keep writing..!
BalasHapus