Assalamualaikum
warahmatullahi wabarakatuh,
Its been a long
time ago terakhir kali aku post tulisan di blog ini.
Mungkiin ya,
beberapa post terakhir hanya berisi kalimat-kalimat yang panjangnya tak
mencapai satu halaman hihi. But, In this good opportunity I really want to
share something with you guys, its bout my opinion that maybe also comes into
your life 😊
Seratus enam hari
lagi, I'll get my 21 years chance from Allah untuk hidup didunia ini, InshaAllah. Itupun
kalau aku mencapai 16 Oktober ditahun ini, wallahu’alam. But selama berjalan hingga
saat ini berbagai macam kejadian, manusia, tempat, kondisi dan semuanya membuatku
belajar banyak hal tentang arti dan makna. Menciptakan seseorang yang kusebut
dengan diriku.
Entah kenapa, aku
lebih suka menulis dan menceritakan dari perspektif diriku atau mungkin tentang
diriku. Bukan karena egois, tapi takut tak objektif bila menilai hal lain,
walau terkadang akupun tak memahami tentang diriku seusungguhnya, percayalah
aku masih terus berusaha. Ini tentang pencarian jati diri yang tak kunjung
usai, atau mungkin bisa dikatakan quarter life crisis .
Enam belas tahun
yang lalu, aku lebih memilih untuk pergi kesawah melewati lumpur dan kali (sungai
kecil) dibelakang perumahan dengan membawa bekal telur goreng atau hanya
sekedar membawa air minum ditas kecil berbentuk dora bersama dengan sahabat ku “Tia”.
Kami lakukan ini hampir setiap hari. Bagaimana dengan ibu?apakah kami tidak
dimarahi? Jelas dimarahi, tapi mungkin karena kita selalu menyempatkan mencucui
baju dan mandi di masjid sebelah rumah, kami selalu pulang dengan baju yang
bersih, walau luka goresan ditangan dna kaki memang hanya kami yang tahu. Saat
itu, makan dan minum dibawah pohon nangka dan manga yang besar sangat
menyenangkan, melihat jalanan dikejauhan sambil berkata “mbak ti, besok kita
kesini lagi ya”
Sepuluh tahun yang
lalu, segala macam bentuk persiapan menyambut Ujian Nasional untuk pertama kali
dalam hidupku. Kayuhan sepeda yang jaraknya sekitar 5-6 kilometer perhari
membakar kulitku hampir 6 tahun lamanya akan segera usai. Pikirku, setelah ini
akan jauh lebih baik, aku bisa mengajukan untuk menggunakan jasa antar jemput
karena lokasi sekolah tujuanku lebih jauh. Ternyata, impianku tercapai, aku tak
harus mengayuh sepeda sejauh itu lagi, namun sekolah impianku tak menjadikan
aku sebagai peserta didiknya, bukan masalah.
Tujuh tahun yang
lalu, masa-masa remaja awal yang sangat menyenangkan, mulai dari ospek bermodel
“jaman dahulu”, dengan gaya bentak-membentak dan atribut tak masuk akal. Hingga
pada masa akhir SMP, aku dipertemukan dengan banyak kawan yang baik, rasa cinta,
memiliki, kebahagian, kesedihan, kekhawatiran, kulalui dengan orang-orang
disekitar ku kala itu dan berfikir “kita bareng-bareng terus ya?”
Empat tahun yang lalu,
yang dikenal sebagai masa paling indah dalam hidup. Berlalu dengan indah, walau
hanya 2 tahun. Mungkin secara kasat mata tas ransel hitam besar ditambah tas
jinjing menjadi outfit kami sehari-hari, percayalah itu itu adalah gaya
terbaik kami pada saat itu. Karena nyaman tidak bisa diukur melalui standar,
jadi kita semua sama. Pramuka. Paguyuban dan sebagianya, masih mampu kuikuti
dengan baik, karena kau tak suka dituntut, maka aku membutuhkan kebutuhanku,
itu semua.
Tiga tahun yang
lalu, aku bertemu dengan circle baru (lagi), perguruan tinggi favorit
(bagiku). Karena disanalah aku belajar hal baru lagi, dengan orang baru dan
cara menjalani hidup yang baru, bisa dibilang 180 derajat kehidupanku berubah,
menjadi lebih baik. Memahami arti kata “apatis” dan “sayang” yang sesungguhnya,
terimakasih ustadzah dan teman-teman yang tak pernah berhenti memarahiku ketika
berbuat yang tak sesuai.
Dua tahun yang
lalu dan hingga saat ini tepatnya, tak terasa lingkungan baru lagi membentukku
menjadi pribadi yang baru lagi, semakin paham bahwa hidup ternyata bukan hanya
soal bagaimana membahagiakan diri sendiri. Menata hati, strategi, karakter,
etika bahkan spiritual menarikku begitu kencangnya kedalam arah yang semuanya mengingikanku
untuk masuk. Kadang belum sempat aku beristirahat, tarikan itu mengencang. Ternyata
karena ini belum saatnya untukku bersitirahat apalagi berhenti.
Teman-teman, tak
mengapa bila hidup ini terkesan random, complicated atau mungkin chaos.
Karena memang harus begitu adanya, orang terdahulu pun bisa melaluinya, so,
its your turn!
Tinggal bagaimana kita apakah mampu menjadikan pelajaran hal-hal dari
orang-orang terdahulu? Atau tetap menjalankan kegagalan mereka?.
Islam, yang telah diperkenalkan
kepadaku sejak lahir, ternyata belum sepenuhnya kukenal. Aku iri dengan kamu,
kalian dan mereka yang lebih mengenal Islam. Benar atau salah, sebelumnya aku selalu
menjastifikasi bahwa apa yang dinilai masyarakat sekitar kebanyakan benar maka
itu akan benar dan sebaliknya. Hingga, aku sadar, masyarakat sekitarku atau
lingkunganku berubah, semuanya tersistem dari pada budaya dan kebiasaan yang
ada disana, rumit!. Aku lupa bahwa,
hanya ada satu hal yang tak mungkin berubah, sebuah standar salah dan benar
terbaik yang tak diciptakan oleh yang “diciptakan” , memiliki “kepentingan” dan
segala macam kejahatan dalam diri seorang “manusia”.
Alquran, surat
cinta bagi seluruh mahkluk di alam semesta. Patokan standar terparipurna yang pemiliknya
adalah Sang Pencipta seluruh alam semesta. Sesuatu yang dijanjikan akan tetap
terjaga hingga hari hancurnya dunia. Tunggu apalagi? Waktu tidak bisa menunggu
ku dan kalian semua. Sudah punya bekal apasaja kita selama ini?
12.44
KM10/IPDNSULUT/BED06
Komentar
Posting Komentar