Perpisahan
by : Arum Hayuning Pangestuti
Motor Bapak itu melaju dengan lirih dijalan,
Wajah anak kecil itu terasa dingin terkena udara pagi yang melewati badan bapak ,
Namun badannya tetap hangat karena himpitan kakak yang duduk dibelakangnya,
Matanya tak pernah lepas dari setiap hal yang mereka lewati ,
pepohonan yang selalu ia hitung,
anak SD bersepeda biru yang selalu berpapas di depan masjid,
pemakaman yang selalu ia beri salam dalam hati,
hingga sebuah jembatan kecil yang menandakan tujuannya akan segera tiba,
Anak kecil itu sedih ..
karena ia tidak bisa melanjutkan tidurnya bila masih mengantuk,
karena ia akan segera melepas sandaran wajahnya dari kehangatan punggung bapak,
karena ia harus bertemu oleh guruku yang akan memarahinya karen PR yang belum kubuat,
karena ia harus meninggalkan kedua orangtuaku untuk beberapa jam,
Mesin motor bapak sudah berhenti,
ia harus segera turun , mengikuti kakaknya yang sudah turun duluan,
kini waktunya mencium tangan bapak,
kemudian bapak memberikan ciuman dikening yang selalu ditinggalkan didahinya setelah ibu ketika dirumah tadi,
Bapak mulai meluruskan posisi duduknya,
kunci motor telah diputar kekanan,
sebelum ayah meninggalkan sekolah,
ia selalu berlari dengan sepatu kecil hitamnya yang sudah mulai jebol,
berbalik dan menjauh tanpa memandang kepergiannya,
kemudian sampai diujung kelas,
ia melihat pagar tempatnya diturunkan bapak,
ia sudah tak ada.
Berbalik badan lagi,
Ia langkahkan kakinya menuju dalam kelas,
sahabatnya tersenyum padanya dari depan papan tulis,
si usil berlarian kesana kemari karena menjahili teman lainnya,
si pintar terlihat diam membaca buku sendirian ditempat duduk paling depan,
si ngantuk masih melanjutkan mimpi nya yang sempat terputus saat ia berangkat,
Tak terasa,
guru sudah hendak mengakhiri pelajaran hari ini,
yang ia tunggu telah tiba,
Ia langkangkahkan lagi kaki kecilnya menyusuri jalan,
sungai, pasar, jalan raya,
bila hujan , banjir tak akan menjadi alasannya untuk berhenti,
ia biarkan kakinya bertelanjang merasakan dingin dan beceknya lumpur pasar,
ia biarkan baju serta kerudungbasah,
ia hanya ingin pulang.
Dengan sabar menunggu mikrolet berwarna coklat,
yang tak jarang hanya lewat sekali dalam 30 menit,
dan ketika lewat, sudah penuh penumpang,
Anak kecil ini,
yang sedari tadi menyimpan es dawet yang ia beli dipasar,
memastikan tetap tersedia hingga perjalanan mikrolet berakhir,
sengaja,
agar es batu yang meleleh ini mampu menambah banyaknya air dalam es dawet,
yan setidaknya mampu menahan rasa lapar dan dahaga nya,
dengan sisa uang terakhirnya setelah ia sisihkan untuk membayar mikrolet,
Sesampainya,
uang 2000 ia berikan,
turun menuju sebuah rumah kecil yang berisi banyak sepeda,
ia berusaha mencari koin 500 di saku bajunya,
yang beberapa kali ia hanya temukan pasir atau tisu berwarna putih yg kering,
akhirnya, disaku rok sebelah kanan koin itu ditemukan.
Sepeda kecil berkerangjang ini,
harus siap kembali untuk dikayuh ditengah terik nya sinar matahari,
kurang lebih 4 km menahan berat badan anak kecil ini dan tas yang digendongnya,
kulitnya yang menghitam dan keringat yang membuat bajunya basah,
tak akan membuatnya berhenti mengayuh pedal sepeda,
kecuali bila ban sepeda bocor atau menolong ibu penjual yang dagangannya terjatuh,
Sungai ini, cukup memberi kelelahan lebih untuk tanjakannya,
namun, dibalik sungai ini, rumahku sudah dekat,
Sebuah masjid tepat 7 langkah disebelah rumahnya,
menyampaikan bahwa ia telah tiba,
ia turun dari sepeda berkeranjang sambil memposisikan punggunya yang sedikit lelah,
Bau harum,
yang selalu ia rindukan, menyerebak keluar dari dalam rumah,
itu adalah miliknya.
Belum sempat ia membuka pintu dengan tangannya,
terbuka pintu itu dengan sendirinya,
seperti biasa, seorang bidadari surga ,
pemasak handal, penyayang setulus jiwa, mampu menjadi apapun yg terbaik dalam hidupnya.
Ibunya, menyuruhnya cuci tangan dan segera makan,
menemaninya makan di meja, sambil melihat dengan wajah indahnya,
Adzan maghrib telah usai,
waktu yang ia tunggu-tunggu,
klakson motor yang ia kenal berbunyi dari kejauhan,
ia berlari membukakan pintu, menyambut .
Ibu dan bapaknya serta kakaknya bersama lagi dengannya, malam itu.
Ia berbahagia.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Maksudnya APA RUM ?
Terkadang kamu berfikir perpisahan adalah sebuah hal yang buruk dan menyakitkan , namun sedikit sabar dan keikhlasan akan membuatmu menemui hal yang jauh lebih membahagiakan.
Pengorbanan memang seringkali harus kita lalui, anggaplah itu sebagai gula dalam sebuah teh tawar.
Melupakan memanglah bukan jalan terbaik, namun mengenang dan belajar memperbaiki diri, mungkin akan membuat mu sadar, bahwa kau akan bertemu lagi dengannya diwaktu yang lebih tepat.
by : Arum Hayuning Pangestuti
Motor Bapak itu melaju dengan lirih dijalan,
Wajah anak kecil itu terasa dingin terkena udara pagi yang melewati badan bapak ,
Namun badannya tetap hangat karena himpitan kakak yang duduk dibelakangnya,
Matanya tak pernah lepas dari setiap hal yang mereka lewati ,
pepohonan yang selalu ia hitung,
anak SD bersepeda biru yang selalu berpapas di depan masjid,
pemakaman yang selalu ia beri salam dalam hati,
hingga sebuah jembatan kecil yang menandakan tujuannya akan segera tiba,
Anak kecil itu sedih ..
karena ia tidak bisa melanjutkan tidurnya bila masih mengantuk,
karena ia akan segera melepas sandaran wajahnya dari kehangatan punggung bapak,
karena ia harus bertemu oleh guruku yang akan memarahinya karen PR yang belum kubuat,
karena ia harus meninggalkan kedua orangtuaku untuk beberapa jam,
Mesin motor bapak sudah berhenti,
ia harus segera turun , mengikuti kakaknya yang sudah turun duluan,
kini waktunya mencium tangan bapak,
kemudian bapak memberikan ciuman dikening yang selalu ditinggalkan didahinya setelah ibu ketika dirumah tadi,
Bapak mulai meluruskan posisi duduknya,
kunci motor telah diputar kekanan,
sebelum ayah meninggalkan sekolah,
ia selalu berlari dengan sepatu kecil hitamnya yang sudah mulai jebol,
berbalik dan menjauh tanpa memandang kepergiannya,
kemudian sampai diujung kelas,
ia melihat pagar tempatnya diturunkan bapak,
ia sudah tak ada.
Berbalik badan lagi,
Ia langkahkan kakinya menuju dalam kelas,
sahabatnya tersenyum padanya dari depan papan tulis,
si usil berlarian kesana kemari karena menjahili teman lainnya,
si pintar terlihat diam membaca buku sendirian ditempat duduk paling depan,
si ngantuk masih melanjutkan mimpi nya yang sempat terputus saat ia berangkat,
Tak terasa,
guru sudah hendak mengakhiri pelajaran hari ini,
yang ia tunggu telah tiba,
Ia langkangkahkan lagi kaki kecilnya menyusuri jalan,
sungai, pasar, jalan raya,
bila hujan , banjir tak akan menjadi alasannya untuk berhenti,
ia biarkan kakinya bertelanjang merasakan dingin dan beceknya lumpur pasar,
ia biarkan baju serta kerudungbasah,
ia hanya ingin pulang.
Dengan sabar menunggu mikrolet berwarna coklat,
yang tak jarang hanya lewat sekali dalam 30 menit,
dan ketika lewat, sudah penuh penumpang,
Anak kecil ini,
yang sedari tadi menyimpan es dawet yang ia beli dipasar,
memastikan tetap tersedia hingga perjalanan mikrolet berakhir,
sengaja,
agar es batu yang meleleh ini mampu menambah banyaknya air dalam es dawet,
yan setidaknya mampu menahan rasa lapar dan dahaga nya,
dengan sisa uang terakhirnya setelah ia sisihkan untuk membayar mikrolet,
Sesampainya,
uang 2000 ia berikan,
turun menuju sebuah rumah kecil yang berisi banyak sepeda,
ia berusaha mencari koin 500 di saku bajunya,
yang beberapa kali ia hanya temukan pasir atau tisu berwarna putih yg kering,
akhirnya, disaku rok sebelah kanan koin itu ditemukan.
Sepeda kecil berkerangjang ini,
harus siap kembali untuk dikayuh ditengah terik nya sinar matahari,
kurang lebih 4 km menahan berat badan anak kecil ini dan tas yang digendongnya,
kulitnya yang menghitam dan keringat yang membuat bajunya basah,
tak akan membuatnya berhenti mengayuh pedal sepeda,
kecuali bila ban sepeda bocor atau menolong ibu penjual yang dagangannya terjatuh,
Sungai ini, cukup memberi kelelahan lebih untuk tanjakannya,
namun, dibalik sungai ini, rumahku sudah dekat,
Sebuah masjid tepat 7 langkah disebelah rumahnya,
menyampaikan bahwa ia telah tiba,
ia turun dari sepeda berkeranjang sambil memposisikan punggunya yang sedikit lelah,
Bau harum,
yang selalu ia rindukan, menyerebak keluar dari dalam rumah,
itu adalah miliknya.
Belum sempat ia membuka pintu dengan tangannya,
terbuka pintu itu dengan sendirinya,
seperti biasa, seorang bidadari surga ,
pemasak handal, penyayang setulus jiwa, mampu menjadi apapun yg terbaik dalam hidupnya.
Ibunya, menyuruhnya cuci tangan dan segera makan,
menemaninya makan di meja, sambil melihat dengan wajah indahnya,
Adzan maghrib telah usai,
waktu yang ia tunggu-tunggu,
klakson motor yang ia kenal berbunyi dari kejauhan,
ia berlari membukakan pintu, menyambut .
Ibu dan bapaknya serta kakaknya bersama lagi dengannya, malam itu.
Ia berbahagia.
--------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Maksudnya APA RUM ?
Terkadang kamu berfikir perpisahan adalah sebuah hal yang buruk dan menyakitkan , namun sedikit sabar dan keikhlasan akan membuatmu menemui hal yang jauh lebih membahagiakan.
Pengorbanan memang seringkali harus kita lalui, anggaplah itu sebagai gula dalam sebuah teh tawar.
Melupakan memanglah bukan jalan terbaik, namun mengenang dan belajar memperbaiki diri, mungkin akan membuat mu sadar, bahwa kau akan bertemu lagi dengannya diwaktu yang lebih tepat.


Teruslah bernyanyi
BalasHapus